TERUNTUK NAMA YANG BELUM DITASBIHKAN

Standar

Dalam kalimat istigfar kusemai harapan baru,

‘nama yang belum ditasbihkan’ apakah kini kau sedang menujuku? Tak bosan aku titipkan do’a dalam dhuha dan shaumku agar Alloh menjaga imanmu ‘nama yang belum ditasbihkan’ . Semoga Alloh merahmati dan melindungi di setiap detik-detik perjalananmu ‘nama yang belum ditasbihkan’. Semoga kelak aku dapat membersamaimu ‘nama yang belum ditasbihkan’ dalam keimanan yang benar. Aku akan selalu menjaga diri, hati dan pikiranku agar selalu tertuju padaNYA. Tak perlu kau khawatir, tautkan selalu hatimu ‘nama yang belum ditasbihkan’ padaNYA maka aku akan selalu disana. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Tetap disana menantimu. kelak ketika ‘nama yang belum bertasbih’ sudah bertasbih semoga aku bisa menjadi bidadari syurgamu. Aamiin.

Kusiapkan diriku dengan selalu memperbaiki imanku, dimana ketika kelak dipertemukan, Alloh pantaskan diriku untukmu ‘nama yang belum ditasbihkan’. Bersama-sama mengemban amanah alloh. Semoga kau tetap istiqomah dan sabar dalam titian ilahi. Aku berharap suatu ketika Allah menghimpun kita dalam kerangka ridhoNYA.

‘nama yang belum ditasbihkan’, keislamanku mungkin tak lebih baik darimu. Namun komitmen muslim sejati selalu meyakini masa depan adalah milik islam. Maka harapanku pun tak jauh dari komitmen itu, memiliki keluarga islam yang berakhlak mulia dan melahirkan banyak generasi ibadurrahman.

Selalu kusematkan di tiap bait-bait do’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan akan masa depan . Aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia”.

Aku akan terus memperbaiki akhlaku agar aku pantas bersanding denganmu ‘nama yang belum ditasbihkan’. Aku tak mau kau menerimaku hanya karena belas kasihan atau nafsuku semata tapi memang aku layak untukmu bersama-sama menjalankan syariat islam sebaik mungkin dalam rangka ketaatan padaNYA . apapun pekerjaanmu yang pasti halal dan toyib kita kembangkan potensi masing-masing untuk keberlangsungan dakwah islam. Menggali kreatifitas sebanyak mungkin menghadapi tantangan akhir zaman.

Semoga kelak kau ‘nama yang belum ditasbihkan’ segera bertasbih dan menjelma di depan shaffku mengiringi sujud dan rukukmu. Aamiin.

> semoga kelak bukan saja dipertemukan, namun Allah senantiasa berkata “kun fayakun” dan alampun bertasbih.^^.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.
Artinya, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74).

Doa yang sangat kita perlukan

Standar

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau biasa berdo’a dengan do’a sebagai berikut; “Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan dan dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan, Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari – Shahih)